Mendoan: Kuliner Tradisional Khas Banyumas
Mendoan - Gorengan tempe setengah matang khas Banyumas
Penjelasan
Mendoan adalah makanan tradisional khas Banyumas yang terbuat dari tempe tipis yang dicelupkan ke dalam adonan tepung berbumbu, kemudian digoreng dengan cara khusus hingga setengah matang. Nama "mendoan" berasal dari kata "mendo" dalam bahasa Banyumasan yang berarti setengah matang atau lembek. Makanan ini memiliki tekstur yang unik, dengan bagian dalam yang lembut dan lembab, sementara bagian luar memiliki lapisan tepung yang tipis namun tetap lembut.
Cita rasa mendoan sangat khas, dengan perpaduan gurih dari tempe, aroma wangi dari daun bawang dan bumbu rempah seperti ketumbar, bawang putih, dan kadang ditambahkan kencur. Tempe yang digunakan untuk mendoan biasanya memiliki bentuk yang lebih tipis dan lebar dibandingkan tempe biasa, yang di Banyumas dikenal dengan istilah "tempe dobel" (tempe berlapis dua). Karena proses penggorengan yang singkat, mendoan memiliki tekstur yang lebih lembut dan lembab dibandingkan dengan tempe goreng pada umumnya.
Di Banyumas, mendoan telah menjadi identitas kuliner yang kuat dan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Makanan ini bisa ditemui di berbagai tempat, dari warung kecil di pinggir jalan hingga restoran. Mendoan biasanya disajikan dengan cabai rawit atau sambal kecap sebagai pelengkap. Makanan ini menjadi camilan favorit saat hujan, pendamping minum teh atau kopi di sore hari, dan juga sering hadir sebagai lauk dalam hidangan utama.
Sejarah
Sejarah mendoan berkaitan erat dengan masuknya kedelai ke Indonesia. Tempe sendiri mulai dikenal di Indonesia sekitar abad ke-16, ketika migrasi dari Asia Tengah membawa kedelai ke Asia Tenggara. Kemudian, kreativitas masyarakat Banyumas mengolah tempe dengan cara unik melahirkan kuliner yang kini dikenal sebagai mendoan. Konon, mendoan sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu, berkembang bersamaan dengan populernya tempe sebagai sumber protein nabati di masyarakat.
Secara komersial, mendoan mulai dijual secara luas di Banyumas sejak tahun 1960-an. Kala itu, mendoan menjadi makanan sederhana namun mengenyangkan yang digemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Keunikan cara memasaknya yang setengah matang menjadi pembeda mendoan dari olahan tempe lainnya di Indonesia. Kata "mendoan" sendiri mencerminkan filosofi masyarakat Banyumas yang luwes dan tidak kaku, karena "mendo" berarti lembek atau tidak keras.
Pada tanggal 30 Oktober 2021, mendoan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pengakuan ini semakin menegaskan posisi mendoan sebagai aset kuliner nasional yang berakar kuat dari tradisi Banyumas. Selain nilai kulinernya, mendoan juga memiliki makna sosial dan budaya bagi masyarakat Banyumas. Proses memakan mendoan yang biasanya dilakukan bersama-sama melambangkan kebersamaan dan kehangatan, menjadikannya lebih dari sekadar makanan, tetapi juga simbol interaksi sosial dan keramahtamahan.
Bahan dan Cara Pembuatan
Bahan Utama
- 10 lembar tempe khusus mendoan (tipis dan lebar)
- 250 gram tepung terigu
- 100 gram tepung beras
- 2 batang daun bawang, iris halus
- Minyak untuk menggoreng
- Air secukupnya
Bumbu Halus
- 5 siung bawang putih
- 3 cm kunyit
- 2 sendok teh ketumbar
- 1 cm kencur (opsional, untuk rasa lebih autentik)
- 1 sendok teh garam
- 1/2 sendok teh kaldu bubuk (opsional)
Cara Membuat
- Campurkan tepung terigu dan tepung beras dalam sebuah wadah besar, aduk rata.
- Tambahkan bumbu halus ke dalam campuran tepung, aduk hingga tercampur merata.
- Tuangkan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan yang tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer. Konsistensinya harus cukup kental untuk menempel pada tempe tetapi cukup encer untuk menghasilkan lapisan tipis.
- Masukkan irisan daun bawang ke dalam adonan, aduk rata.
- Panaskan minyak dalam wajan dengan api sedang hingga cukup panas. Perlu diingat, jumlah minyak harus cukup banyak agar mendoan terendam saat digoreng.
- Celupkan lembar tempe ke dalam adonan tepung hingga seluruh permukaannya terlapisi.
- Goreng tempe dalam minyak panas dengan waktu yang singkat, hanya sekitar 1-2 menit atau hingga warnanya berubah menjadi kuning keemasan tetapi bagian dalam masih lembut. Inilah kunci utama mendoan yang autentik - penggorengan yang tidak terlalu lama.
- Angkat dan tiriskan mendoan, lalu sajikan selagi hangat dengan pelengkap sambal atau cabai rawit.
Tip: Kunci utama membuat mendoan yang autentik terletak pada dua hal: adonan tepung yang tepat dan waktu penggorengan yang singkat. Adonan tidak boleh terlalu kental agar tidak menghasilkan lapisan tepung yang tebal. Sementara itu, penggorengan yang terlalu lama akan membuat mendoan kehilangan karakteristik "mendo" atau lembek yang menjadi ciri khasnya. Tambahkan sedikit kencur dalam bumbu halus untuk mendapatkan aroma khas mendoan Banyumas yang lebih autentik.
Variasi
Meskipun mendoan dari Banyumas memiliki karakteristik yang khas, seiring perkembangan waktu, terdapat beberapa variasi yang bisa ditemui:
Mendoan Tradisional
Versi autentik dari Banyumas dengan tekstur yang lembut dan setengah matang, digoreng dalam waktu singkat untuk mempertahankan kelembaban di bagian dalam.
Mendoan Krispi
Variasi yang digoreng lebih lama hingga bagian luarnya lebih renyah, lebih cocok bagi mereka yang menyukai tekstur garing pada gorengan tempe.
Mendoan Kunyit
Variasi dengan penambahan kunyit yang lebih banyak, menghasilkan warna kuning yang lebih cerah dan aroma rempah yang lebih kuat.
Sushi Mendoan
Kreasi modern di mana mendoan digulung dengan nasi dan bahan lain seperti sayuran atau daging, menggabungkan cita rasa tradisional dengan presentasi internasional.
Mendoan Isi
Variasi dimana tempe dibelah dan diisi dengan bahan lain seperti sambal oncom atau tahu sebelum dicelup ke dalam adonan tepung dan digoreng.
Selain variasi dalam cara pengolahan, terdapat juga perbedaan mendoan berdasarkan daerah. Mendoan dari Banyumas cenderung memiliki aroma rempah yang khas karena penggunaan kencur, sementara di daerah lain di Jawa Tengah, kencur mungkin tidak digunakan atau digantikan dengan bumbu lain. Ketebalan adonan tepung juga bisa berbeda-beda, dengan beberapa tempat lebih menyukai lapisan tepung yang lebih tebal sementara yang lain lebih tipis.
Tips Menikmati
Sajikan Hangat
Mendoan paling nikmat dinikmati selagi hangat, langsung setelah digoreng. Jangan biarkan terlalu lama karena tekstur khasnya akan berubah saat sudah dingin. Jika harus dipanaskan kembali, lebih baik dipanaskan dengan cara mengukus agar tidak menjadi terlalu kering.
Pendamping Autentik
Cara tradisional menikmati mendoan di Banyumas adalah dengan cabai rawit yang dimakan langsung atau sambal kecap yang dibuat dari kecap manis, potongan cabai rawit, dan sedikit jeruk limau. Cobalah menikmati mendoan dengan kedua pendamping ini untuk pengalaman autentik.
Kombinasi Makanan
Mendoan juga bisa dinikmati sebagai pendamping makanan berkuah seperti soto atau bakso. Kelembutan mendoan memberikan kontras tekstur yang menarik dengan kuah yang gurih, menciptakan kombinasi rasa yang harmonis.
Momen Tepat
Di Purwokerto, mendoan sering dinikmati pada sore hari saat hujan, ditemani dengan secangkir teh atau kopi. Kombinasi ini sangat populer dan telah menjadi rutinitas wajib bagi banyak warga lokal, menciptakan momen kehangatan di tengah cuaca dingin.
Tempat Terbaik
Untuk mencicipi mendoan paling autentik di Banyumas, kunjungi warung-warung lokal seperti Warung Ripah, Sawangan, Mendoan Gang Kecil, dan Roda Mas yang telah lama dikenal dengan mendoan berkualitas tinggi. Mendoan terbaik seringkali ditemukan di tempat sederhana yang telah menjaga resep tradisional selama bertahun-tahun.